Jurnal Internasional Monitoring penyakit residual terukur oleh NGS sebelum transplantasi sel hematopoietik alogenik di AML

Download Jurnal Disini

Penilaian penyakit residu terukur molekuler (MRD) tidak ditegakkan pada sekitar 60% pasien myeloid leukemia akut (AML) karena kurangnya penanda yang cocok untuk reaksi rantai polimerase real-time kuantitatif. Untuk mengatasi keterbatasan ini, kami menetapkan pendekatan MRD generasi mendatang (MRG) yang dikoreksi kesalahan yang dapat diterapkan pada setiap mutasi gen somatik. Signifikansi klinis dari pendekatan ini dievaluasi pada 116 pasien AML yang menjalani transplantasi sel hematopoietik alogenik (alloHCT) dalam remisi morfologi lengkap (CR). Target resequencing pada saat diagnosis mengidentifikasi mutasi yang sesuai pada 93% pasien, yang meliputi 24 gen yang berbeda. MRD diukur dalam sampel CR dari darah perifer atau sumsum tulang sebelum alloHCT dan mengidentifikasi 12 pasien dengan persistensi klon leluhur (varian frekuensi alel [VAF]> 5%). Sisa 96 pasien membentuk kohort akhir yang 45% adalah MRD + (median VAF, 0,33%; kisaran, 0,016% -4,91%). Dalam analisis risiko bersaing, insiden kumulatif kambuh (CIR) lebih tinggi pada MRD + dibandingkan pada pasien MRD (rasio hazard [HR]5,58; P <.001; CIR 5 tahun, 66% vs 17%), sedangkan mortalitas nonrelaps tidak berbeda secara signifikan (HR, 0,60; P = .47). Dalam analisis multivariat, MRD positif adalah prediktor negatif independen CIR (HR, 5.68; P <.001), di samping FLT3ITD dan NPM1 status mutasi pada saat diagnosis, dan kelangsungan hidup secara keseluruhan (HR, 3.0; P = .004), di samping pengaturan ulang dan TP53 dan Status mutasi KRAS. Kesimpulannya, MRD berbasis NGS secara luas berlaku untuk pasien AML, sangat prediktif terhadap relaps dan kelangsungan hidup, dan dapat membantu memperbaiki transplantasi dan manajemen posttransplantasi pada pasien AML.

Download Jurnal Disini

Tags: